Minggu, 28 Februari 2016



Bismillaahirrohmaanirrohiim, semoga manfa'at ^_^

Pondok Pesantren Salafiyah Putri Al-Ishlahiyyah, dirintis oleh KH. Imam Ghozali dan Nyai. Dewi Zulaichah,  mulai tahun 1999 dan diresmikanoleh KH. Agus Ahmad Arif Yahya (pengasuh popes Miftahul Huda Gading) pada mei 2010 dan mendapat sertifikat dari Menteri Agama No. 03 tahun 1983 dan DEPAG Kota Malang Nomer :  Statistik Diniyah Takmiliah 321235730033  untuk menyelenggarakan kegiatan Madrasah Diniyah. Saat ini kegiatan pesantren dikelola dan diteruskan oleh putra putri Beliau, diantaranya  DR. Umi Machmudah M.A (DosenUIN Malang), Gus Ali Machmudi, Ir. Ahmad Priadi.
            Hampir 100% santriwati yang mukim di pondok ini adalah para mahasiswa dan sisanya pelajar, yang belajar di perguruan tinggi dan sekolah menengah. Karena pesantren ini keberadaan pondok ini sangat stategis, berada di tengah- tengah kota Malang, sangat dekat dengan tempat pendidikan umum dan dikelilingi berbagai kampus baik negeri maupun swasta, yaitu UM ,UNIBRAW ,UIN , ITN,UNMER, STIKI, IKIP BUDI UTOMO dll. Sehingga memudahkan para pelajar dan mahasiswa yang berniat menimba ilmu agama dan ilmu umum sekaligus.
            
Adapun optimalisasi waktu tempuh rata-rata dari  pondok pesantren dengan UM (jalan kaki 15 menit, sepeda 10 menit, sepeda motor 5 menit), UNIBRAW dan ITN (jalan kaki 20 menit, sepeda 15 menit, sepeda motor 10 menit), UIN (sepeda pancal 15 menit, sepeda motor 10 menit), UNMER (jalan kaki 15 menit, sepeda 10 menit, sepeda motor 5 menit), STIKI (jalan kaki 20 menit, sepeda 10 menit, sepeda motor 5 menit),IKIP BUDI UTOMO (jalan kaki 20 menit, sepeda 15 menit, sepeda motor 10 menit).
            Kegiatan santriwati adalah dimulai pagi hingga sore belajar di sekolah atau kampus. Mulai Maghrib hingga pagi mukim di pondok untuk sekolah madrasah diniyah serta mengikuti kegiatan pondok pesatren.
Pondok pesantren ini bertujuan mencetak santriwati yang mempunyai kemantapan aqidah, kedalaman spiritual, brakhlak luhur, kemampuan memahami kitab kuning, punya ketrampilan hidup bermasyarakat dalam rangka mendakwah ilmu agama dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah.

A.    VISI dan MISI
• Menjadi lembaga pendidikan Islam terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu agama Islam.
• Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mempersiapkan santri yang kompeten dibidang ilmu-ilmu bahasa Arab.
• Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mempersiapkan santri yang kompeten dibidang ilmu-ilmu agama Islam.
• Mengembangkan dan membudayakan nilai-nilai religius, tradisi-tradisi salaf al sholeh, akhlaqul karimah.
• Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan hidup bermasyarakat dalam rangka mendakwahkan Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.

B.     TUJUAN
• Mencetak santri yang memiliki kemantapan akidah, kedalaman spiritual dan keluhuran akhlak.
• Mencetak santri yang mampu menguasai kaidah-kaidah bahasa Arab sebagai bekal mendalami kitab-kitab kuning.
• Mencetak santri yang memiliki pengetahuan dan wawasan dalam bidang ilmu-ilmu agama Islam.
• Mencetak santri yang memiliki kemampuan dan ketrampilan hidup bermasyarakat dalam rangka mendakwahkan Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.

C.      JENJANG PENDIDIKAN
Madrasah diniyah

D.       SARANA dan PRASARANA PESANTREN
Musholla induk (Baitur Rohim), aula, 7 kamar santri dan masing bisa diisi 4-7 santri, 5 kamar mandi dan 5 Wc, satu tempat cucian, dua tempat jemuran, satu dapur dan tempat peralatannya, satu kantor pondok, pearalatan administrasi, komputer dan kelengkapanya, satu tempat parkir.


E.     KEGIATAN PESANTREN

Ba’da Maghrib hari Jum’at-Rabu: Diniyah
Ba’da Maghrib hari Kamis: Istighosah atau membaca sholawat nabi
Ba’da Isya’ hari Sabtu-Minggu: mengaji quran dan khataman quran
Ba’da shubuh hari selasa-kamis: mengaji Bulughul Marom


Ba’da shubuh hari jum’at-senin: mengaji Matan Zubad
Minggu pagi : dilakukan ro’an atau ta’ziran sekitar pesantren
Ba’da isya’ hari jum’at: latihan Banjari


Ritual              :  Sholat Jama’ah, Tahlil,Istighosah, Sholawat diba’, Sholat   
                              
malam, Sholat dhuha, peringatan maulid nabi.

Pendidikan      :  Madrasah Diniah, mengaji bandongan ( subuh), mengaji
                               
Al-quran(sorogan), hafalan jus ‘Amma dan surat pilihan,
                               
hafalan Hadist, pidato, muroja’ah hafalan, dan mengaji 2   
                               
bahasa (Arab, Inggris)

 Seni dan sosial :  banjari, idul qurban, haflah, pengabdian bagi kelas 4 diniah.



F.                  JADWAL  MADRASAH DINIYAH



Kelas satu    : النَحو الواضح, الأمثلة التصريفيّة, سفينة الصّلاة,
                           
مدارج الدَروس العربيَة 2&1, ألالا, عقيدة العوام,          
                      
 شفاء الجنان , الإبريز ,1 خلاصة نور اليقين



Kelas dua     :  متن الأجروميَة, تنوير الحجا , مدارج الدَروس العربيَة 3, الأمثلة التَصريفيَة, 
                           
الإبريز الجزء 30,  الجواهر الكلاميَة,  2 خلاصة نور اليقين , الكيلان



Kelas tiga     : العمريطي,  فتح القريب, وصايا, مدارج الدَروس العربيَة 4, الكيلان,

                        خلاصة نور اليقين 3, الأربعين النَووي, pasca  مدارج.

Kelas empat : كفاية العوام, العمريطي, فتح المعين, بلوغ المرام , pasca  مدارج.



G.                STRATEGI PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN

Setelah dilakukan penelitian pada sumber-sumber data yang berhubungan, Pondok Pesantren Ishlahiyah ini mengimplementasi strategi pembelajaran PAKEM berbasis pendidikan karakter dalam meningkatkan mutu pembelajaran Madrasah Diniyah Ishlahiyah, maka dapat diketahui paparan data yang diteliti yaitu sebagai berikut :

1.                   Pelaksanaan PAKEM berbasis pendidikan karakter dalam pembelajaran Ubudiyah para santri di Madin PP.Ishlahiyah.

   Dalam pelaksanaan PAKEM berbasis pendidikan karakter dalam pembelajaran Ubudiyah di Madin PP.Ishlahiyah menggunakan model pembelajaran kontekstual & beberapa metode pembelajaran, sebagai berikut :

·                     Model pembelajaran Kontekstual

Pada model PAKEM ini telah diterapkan pada pembelajaran Ubudiyah , sebagaimana hasil wawancara dengan Ustadzah Jannah, selaku pembimbing pada pembelajaran Ubudiyah di Madin PP.Ishlahiyah.

Konsep detail yang kita pakai memang harus sesuai dengan lapangan, kayak kemarin kan saya ambil ayat yang berisi motivasi keterangan, kemudian saya suruh praktek & evaluasi.

 Selain hasil wawancara diatas, penggunaan pembelajaran kontekstual pada pembelajaran ubudiyah juga didukung dengan foto dibawah ini hasil dari observasi peneliti di kelas 1 Madin PP.Ishkahiyah pada tanggal 4 Januari 2016 pukul 19.00-19.30 WIB, yang menunjukkan kegiatan para santri dalam praktik sholat berjama’ah pada materi bab sholat.






  Foto diatas menggambarkan bahwa pembelajaran yang dilakukan peserta didik langsung dihadapkan pada praktek, sehingga peserta didik  mengalami langsung, dengan praktek dan dapat mempermudah peserta didik memahami pembelajaran yang di pelajari.

Metode Pendidikan Madin di PP.Ishlahiyah

1.      Metode Tradisional

a.       Metode sorogan

Metode sorogan merupakan metode yang ditempuh dengan cara ustadz menyampaikan pelajaran kepada santri secara individual. Sasaran metode ini biasanya kelompok santri pada tingkat rendah yaitu mereka yang baru menguasai pembacaan Al-quran. Melalui sorogan, pengembangan intelektual santri dapat ditangkap oleh kiai secara utuh. Dia dapat memberikan bimbingan penuh sehingga dapat memberikan tekanan pengajaran terhadap santri-santri tertentu atas dasar observasi langsung terhadap tingkat kemampuan dasar dan kapasitas mereka. Kelemahan penerapan metode ini menuntut pengajar untuk besikaf sabar dan ulet, selain itu membutuhkan waktu yang lama yang berarti pemborosan, kurang efektif dan efisien. Kelebihannya yaitu secara signifikan  kiai/ustadz mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan santri dalam menguasai materi yang diajarkan.

b.      Metode Wetonan

Metode wetonan atau di sebut juga metode bandungan adalah metode pengajaran dengan cara ustadz/kiai  membaca, menerjemahkan, menerangkan dan mengulas kitab/buku-buku keislaman dalam bahasa arab, sedangkan santri mendengarkannya. Mereka memperhatikan kitab/bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata yang diutarakan oleh ustadz/kiai.

Kelemahan dari metode ini yaitu mengakibatkan santri bersikaf pasif. Sebab kreatifitas santri dalam proses belajar mengajar di domoninasi oleh ustadz/kiai, sementara santri hanya mendengarkan dan memperhatikan.

Kelebihan dari metode ini yaitu terletak pada pencapaian kuantitas dan pencapaian kjian kitab, selain itu juga bertujuan untuk mendekatkan relasi antara santri dengan kiai/ ustadz.

c.       Meode Ceramah

Metode ceramah ini merupakan hasil pergeseran dari metode wetonan dan metode sorogan. Said dan Affan melaporkan bahwa metode wetonan dan metode sorogan yang semula menjadi ciri khas pesantren, pada beberapa pesantren telah diganti denganm metode ceramah sebagai metode pengajaran yang pokok dengan sistem klasik. Namun pada beberapa pesantren lainnya masih menggunakan metode sorogan dan wetonan untuk pelajaran agama, sedangkan untuk pelajaran umum menggunakan metode ceramah. (Said dan Affan : 98).

Kelemahan dari metode ini justru mengakibatkan santri menjadi lebih fasif, sedangkan kelebihannya yaitu mampu menjangkau santri dalam jumlah banyak, bisa diterapkan pada peserta didik yang memiliki kemampuan heterogen dan pengajar mampu menyampaikan materi yang relatif banyak.

d.      Metode Muhawarah

Metode muhawarah adalah metode yang melakukan kegiatan bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa arab yang diwajibkan pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok.(Arifin :39). Sebagian pesantren hanya mewajibkan pada saat tertentu yang berkaitan dengan kegiatan lain, namun sebagian pesantren lain ada yang mewajibkan para santrinya setiap hari menggunakan bahasa arab.

Kelebihan dari penerapan metode ini yaitu dapat membentuk lingkungan yang komunikatif antara santri yang menggunakan bahasa arab dan secara kebetulan dapat menambah pembendaharaan kata (mufradat) tanpa hafalan. Pesantren yang menerapkan metode ini secara intensif selalu berhasil mengembangkan pemahaman bahasa.

e.       Metode Mudzakarah

Metode mudzakarah adalah suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyyah seperti aqidah, ibadah dan masalah agama pada umumnya. Aplikasi metode ini dapat mengembangkan dan membangkitkan semangat intelektual santri. Mereka diajak berfikir ilmiah dengan menggunakan penalaran-penalaran yang didasarkan pada Al-qur’an dan Al-sunah serta kitab-kitab keislaman klasik. Namun penerapan metode ini belum bisa berlangsung optimal, ketika para santri membahas aqidah khususnya, selalu dibatasi pada madzhab-madzhab tertentu. Materi bahasan dari metode mudzakarah telah mengalami perkembangan bahkan diminati oleh kiai yang bergabung dalam forum bathsul masail dengan wilayah pembahasan yang sedikit meluas.

f.       Metode Majlis Ta’lim

Metode majlis ta’lim adalah metode menyampaikan pelajaran agama islam yang bersifat umum dan terbuka,  yang dihadiri jama’ah yang memiliki latar belakang pengetahuan, tingkat usia dan jenis kelamin.

2.      Metode Kombinasi
Sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan teknologi banyak pesantren yang melakukan pembenahan dalam metode pembelajaran, hal itu dilakukan guna memperbaiki kualitas-kualitas sumber daya santri sehingga bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Berdaarkan perspektif metodik, pesantren terpolarisasikan menjadi tiga kelompok yaitu:
a.       Pesantren yang hanya meggunakan satu metode yang bersifat tradisional dalam mengajarkan kitab-kitab klasik.
b.      Pesantren yang hanya menggunakan metode-metode hasil penyesuaian dengan metode yang dikembangkan pendidikan formal.
c.       Pesantren yang menggunakan metode-metode bersifat tradisional dan mengadakan penyesuaian dengan metode pendidikan yang dipakai dalam lembaga pendidikan formal.
Berikut ini beberapa metode hasil penyesuaian dengan pendidikan formal yaitu :
1)      Metode Karya Wisata
Metode karya wisata tampaknya masih terdengar cukup asing bagi pesantren kecuali ziarah makam-makam wali songo atau ziarah kemakam-makam kiai terdahulu. Saefudin Zuhri menggambarka “bahwa di beberapa pesantren, para santri tidak hanya menyibukkan diri dalam mengaji dan belajar, namun ada juga saat-saat rekreasi atau liburan”.
2)      Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan metode biasa diterapkan di perguruan tinggi, namun sekarang metode ini juga diterapkan di pesantren. Diskusi membuka kesempatan timbulnya pemikiran yang liberal dengan dasar argumen ilmiah. Melalui metode ini ekslusivisme pemikiran di pesantren dapat terbongkar, feodalisme pengajaran dari kiai dan ustadz memperoleh perlawanan, sikap toleran, sportif terhadap munculnya ide-ide baru menemukan penyaluran dan mendorong timbulnya daya kreatif yang tajam.

H.    Transformasi Kurikulum Pesantren
1.      Materi Dasar Keislaman Dengan Ilmu Keislaman
Sistem pendidikan dipesantren tidak didasarkan pada kurikulum yang digunakan secara luas, tetapi diserahkan pada penyesuaian elastis antara kehendak kiai dengan kemampuan santrinya secara individual.
Ketika masih berlangsung dilanggar (surau) atau masjid, kurikulum pengajian masih dalam bentuk yang sederhana, yakni berupa inti ajaran islam yang mendasar. Rangkaian trio komponen ajaran islam yang berupa iman, islam dan insan atau dokrin, ritual, dan mistik telah menjadi perhatian kiai perintis pesantren sebagai kurikulum yang diajarkan kepada santrinya. Penyampaian tiga komponen ajaran islam tersebut dalam bentuk yang paling mendasar, sebab disesuaikan dengan tingkat intelektual dengan masyarakat (santri) dan kualitas keberagamaannya pada waktu itu.
Peralihan dari langgar (surau) atau masjid lalu berkembang menjadi pondok pesantren ternyata membawa perubahan materi pengajaran. Dari sekedar pengetahuan menjadi suatu ilmu.
Dalam perkembangan selanjutnya, santri perlu di berikan bukan hanya ilmu-ilmu yang terkait dengan ritual keseharian yang bersifat praktis-pragmatis, melainkan ilmu-ilmu yang berbau penalaran yang menggunakan referensi wahyu seperti ilmu kalam, bahkan ilmu-ilmu yang menggunakan cara pendekatan yang tepat kepada Allah seperti tasawuf.
Ilmu kalam atau ilmu tauhid memberikan pemahaman dan keyakinan terhadap ke-esaan Allah, fiqih memberikan cara-cara beribadah sebagai konsekuensi logis dari keimanan yang telah dimiliki seseorang pada penyempurnaan ibadah agar menjadi orang yang benar-benar dekat dengan Allah.
2.      Penambahan dan Perincian Materi Dasar
Kurikulum pesantren berkembang menjadi bertambah luas lagi dengan penambahan ilmu-ilmu yang masih merupakan elemen dari materi pelajaran yang diajarkan pada masa awal pertumbuhannya. Beberapa laporan mengenai materi pelajaran tersebut dapat disimpulkan yaitu: al-qur’an dengan tajwid dan tafsir, aqa’id dan ilmu kalam ,fiqih dengan ushul fiqih dan qawaid al-fiqh, hadits dengan mushthalah hadits, bahasa arab dengan ilmu alatnya seperti nahwu, sharaf, bayan, ma’ani, badi, dan ‘arudh, tarikh, mantiq, tasawuf, akhlak dan falak.
Tidak semua pesantren mengajarkan ilmu tersebut secara ketat. Kombinasi ilmu tersebut hanyalah lazimnya ditetapkan di pesantren. Beberapa pesantren lainnya menetapkan kombinasi ilmu yang berbeda-beda karena belum ada standarisai kurikulum pesantren baik yang berskala lokal, regional maupun nasional. Standarisasi kurikulum barang kali tidak pernah berhasil ditetapkan disuruh pesantren.
Sebagian besar kalangan pesantren tidak setuju dengan standarisasi kurikulum pesantren. Variasi kurikulum pesantren justru diyakini lebih baik. Adanya variasi kurikulum pada pesantren akan menunjukan ciri khas dan keunggulan masing-masing. Sedangkan penyamaran kurikulum terkadang justru membelenggu kemampuan santri.
Dengan cermat Saridjo dkk. Menyebutkan bahwa pengetahuan-pengetahuan yang paling diutamakan adalah pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan bahasa arab (ilmu sharaf dan ilmu alat yang lain) dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu syari’at sehari-hari (ilmu fiqih,baik berhubungan dengan ibadah maupun mu’amalahnya). Sebaliknya, dalam perkembengan terakhir fiqih justru menjadi ilmu yang paling dominan.[3][5]
I.     Bentuk Evaluasi
Setiap proses pembelajaran tentu harus ada kegiatan evaluasi diakhir pembelajaran, kegiatan evaluasi dilakukan guna mengukur apakah hasil pembelajaran sudah sesuai dengan tujuan atau belum. Disamping itu ada juga evaluasi terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, namun evaluasi disini lebih cenderung bersifat hukuman agar yang melakukan pelanggaran merasa jera dan tidak akan mengulangi lagi.
Di Madin PP.Ishlahiyah juga terdapat bentuk evaluasi, baik itu evaluasi proses pembelajaran maupun evaluasi terhadap pelanggaran-pelanggaran.Uraian nya sebagai berikut :
1.      Bentuk evaluasi pembelajaran
Bentuk evaluasi pembelajaran disini berupa ujian lisan yang dilakukan oleh pengajar/ustadz kepada santri setiap selesai pembelajaran satu bab pada kitab yang dipelajari. Bentuk evaluais lisan dilakukan guna melatih berbicara dan mengemukakan pendapat agar terbiasa.
Evaluasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur sejauh mana tingkat pemahaman santri mengenai materi yang disampaikan, dengan mengukur apakah hasilnya sudah sesuai dengan yang diharapkan, jika masih belum sesuai bisa dilakukan perbaikan metode dan strategi agar pada evaluasi selanjutnya hasil yang diperoleh bisa sesuai dengan yang diharapkan oleh pengajar/ustadz.
2.      Bentuk evaluasi terhadap bentuk pelanggaran
Evaluasi ini dilakukan guna memperbaiki sikap-sikap santri yang menyimpang dari aturan-aturan dan tata tertib yang berlaku. Evaluasi ini dilakukan dengan bentuk kontrol sosial agar santri jera dan tidak mengulangi pelanggaran-pelanggaran tersebut. Dalam hal ini evaluasi cenderung lebih bersifat umum. Pelanggara  berikut ini merupakan contoh hukuman yang diberikan di pondok pesantren miftahussalam yaitu: pelanggaran pencurian, memakai narkoba dan sejenisnya, adapun hukumannya cukur rambut, membersihkan kolah dan bisa sampai dikeluarkan dari pondok pesantren.







Senin, 15 Februari 2016

Intoduce My Self

         Assalaamu'alaikum, Hai sobat blog.... dari pada kepoin aku dari belakang mending kepoin aku disini aja. perkenalkan namaku "Binti Istitofatul Istiaroh biasa dipanggil Tya atau Binti. asal kotaku di Kediri, dan saya dilahirkan pada tanggal 30 Agustus 1996 yang berzodiak Virgo. dulu aku juga pernah merasakan duduk di bangku TK loh.. TK Darma Wanita Kediri kurang lebih seperti itu namanya, dulu satu desaku hanya aku seorang diri yang ikut pembelajaran di sana, sedikit bangga lah .. Hahaha..  Sedangkan SD ku di SDN 1 Kedak, setelah itu aku lanjut di sebuah lembaga pesantren yang mana disana aku memasuki jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs.) setara dengan SMP sampai Madrasah Aliyah (MA) setara dengan SMA sebut saja nama lembaganya yayasan Hidayatus Sholihin. Yayasan yang mana di Pesantren tersebut berbagai ilmu yang dengan mudah aku dapatkan. Mulai dari ilmu agama, ilmu umum sampai ilmu berorganisasi. Dan alhamdulillah juga lumayan dekat dengan pengasuh pesantren, jadinya lebih banyak ilmu dan pengalaman yang aku pelajari. Mulai tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan baik di Lingkungan masyarakat sampai tentang bagaimana cara  mengaplikasikan ilmu agama yang benar yang diimbangi dengan ilmu umum. Aku memang dibesarkan di kediri tetapi lama tinggal di malang karena mengikuti alur pendidikan yang aku ambil dari empat tahun yang lalu. Karena saat beranjak kelas XI aku berhijrah ke kota apel ini untuk mendalami ilmu kesehatan  karena beberapa alasan yang mengharuskanku ke sini,  sebut saja SMK Perawat Baitul Makmur yang terletak di sawojajar kedung kandang kota Malang.