![]() |
Bismillaahirrohmaanirrohiim, semoga manfa'at ^_^
Pondok Pesantren Salafiyah Putri Al-Ishlahiyyah, dirintis oleh KH.
Imam Ghozali dan Nyai. Dewi Zulaichah,
mulai tahun 1999 dan diresmikanoleh KH. Agus Ahmad Arif Yahya (pengasuh popes Miftahul Huda Gading) pada mei 2010 dan mendapat
sertifikat dari Menteri Agama No. 03 tahun 1983 dan DEPAG Kota Malang Nomer
: Statistik Diniyah Takmiliah
321235730033 untuk menyelenggarakan
kegiatan Madrasah Diniyah. Saat ini kegiatan pesantren dikelola dan diteruskan
oleh putra putri Beliau, diantaranya DR.
Umi Machmudah M.A (DosenUIN Malang), Gus Ali Machmudi, Ir. Ahmad Priadi.
Hampir 100% santriwati yang mukim di pondok ini adalah para
mahasiswa dan sisanya pelajar, yang belajar di perguruan tinggi dan sekolah
menengah. Karena pesantren ini keberadaan pondok ini sangat stategis, berada di
tengah- tengah kota Malang, sangat dekat dengan tempat pendidikan umum dan
dikelilingi berbagai kampus baik negeri maupun swasta, yaitu UM ,UNIBRAW ,UIN ,
ITN,UNMER, STIKI, IKIP BUDI UTOMO dll. Sehingga memudahkan para pelajar dan
mahasiswa yang berniat menimba ilmu agama dan ilmu umum sekaligus.Adapun optimalisasi waktu tempuh rata-rata dari pondok pesantren dengan UM (jalan kaki 15 menit, sepeda 10 menit, sepeda motor 5 menit), UNIBRAW dan ITN (jalan kaki 20 menit, sepeda 15 menit, sepeda motor 10 menit), UIN (sepeda pancal 15 menit, sepeda motor 10 menit), UNMER (jalan kaki 15 menit, sepeda 10 menit, sepeda motor 5 menit), STIKI (jalan kaki 20 menit, sepeda 10 menit, sepeda motor 5 menit),IKIP BUDI UTOMO (jalan kaki 20 menit, sepeda 15 menit, sepeda motor 10 menit).
Kegiatan santriwati adalah dimulai pagi hingga sore belajar di sekolah atau kampus. Mulai Maghrib hingga pagi mukim di pondok untuk sekolah madrasah diniyah serta mengikuti kegiatan pondok pesatren.Pondok pesantren ini bertujuan mencetak santriwati yang mempunyai kemantapan aqidah, kedalaman spiritual, brakhlak luhur, kemampuan memahami kitab kuning, punya ketrampilan hidup bermasyarakat dalam rangka mendakwah ilmu agama dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah.
A.
VISI dan MISI
• Menjadi lembaga pendidikan Islam terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu agama Islam.
• Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mempersiapkan santri yang kompeten dibidang ilmu-ilmu bahasa Arab.
• Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mempersiapkan santri yang kompeten dibidang ilmu-ilmu agama Islam.
• Mengembangkan dan membudayakan nilai-nilai religius, tradisi-tradisi salaf al sholeh, akhlaqul karimah.
• Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan hidup bermasyarakat dalam rangka mendakwahkan Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.
• Menjadi lembaga pendidikan Islam terkemuka dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu agama Islam.
• Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mempersiapkan santri yang kompeten dibidang ilmu-ilmu bahasa Arab.
• Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dalam rangka mempersiapkan santri yang kompeten dibidang ilmu-ilmu agama Islam.
• Mengembangkan dan membudayakan nilai-nilai religius, tradisi-tradisi salaf al sholeh, akhlaqul karimah.
• Mengembangkan kemampuan dan ketrampilan hidup bermasyarakat dalam rangka mendakwahkan Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.
B.
TUJUAN
• Mencetak santri yang memiliki kemantapan akidah, kedalaman spiritual dan keluhuran akhlak.
• Mencetak santri yang mampu menguasai kaidah-kaidah bahasa Arab sebagai bekal mendalami kitab-kitab kuning.
• Mencetak santri yang memiliki pengetahuan dan wawasan dalam bidang ilmu-ilmu agama Islam.
• Mencetak santri yang memiliki kemampuan dan ketrampilan hidup bermasyarakat dalam rangka mendakwahkan Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.
• Mencetak santri yang memiliki kemantapan akidah, kedalaman spiritual dan keluhuran akhlak.
• Mencetak santri yang mampu menguasai kaidah-kaidah bahasa Arab sebagai bekal mendalami kitab-kitab kuning.
• Mencetak santri yang memiliki pengetahuan dan wawasan dalam bidang ilmu-ilmu agama Islam.
• Mencetak santri yang memiliki kemampuan dan ketrampilan hidup bermasyarakat dalam rangka mendakwahkan Islam dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.
C. JENJANG PENDIDIKAN
Madrasah diniyah
Madrasah diniyah
D. SARANA dan PRASARANA PESANTREN
Musholla induk (Baitur Rohim), aula, 7 kamar santri dan masing bisa diisi 4-7 santri, 5 kamar mandi dan 5 Wc, satu tempat cucian, dua tempat jemuran, satu dapur dan tempat peralatannya, satu kantor pondok, pearalatan administrasi, komputer dan kelengkapanya, satu tempat parkir.
Musholla induk (Baitur Rohim), aula, 7 kamar santri dan masing bisa diisi 4-7 santri, 5 kamar mandi dan 5 Wc, satu tempat cucian, dua tempat jemuran, satu dapur dan tempat peralatannya, satu kantor pondok, pearalatan administrasi, komputer dan kelengkapanya, satu tempat parkir.
E.
KEGIATAN PESANTREN
Ba’da Maghrib hari Jum’at-Rabu: Diniyah
Ba’da Maghrib hari Kamis: Istighosah atau membaca sholawat nabi
Ba’da Isya’ hari Sabtu-Minggu: mengaji quran dan khataman quran
Ba’da shubuh hari selasa-kamis: mengaji Bulughul Marom
Ba’da shubuh hari jum’at-senin: mengaji Matan Zubad
Minggu pagi : dilakukan ro’an atau ta’ziran sekitar pesantren
Ba’da isya’ hari jum’at: latihan Banjari
Ritual
: Sholat Jama’ah, Tahlil,Istighosah, Sholawat diba’, Sholat
malam, Sholat dhuha, peringatan maulid nabi.
malam, Sholat dhuha, peringatan maulid nabi.
Pendidikan : Madrasah Diniah, mengaji bandongan ( subuh), mengaji
Al-quran(sorogan), hafalan jus ‘Amma dan surat pilihan,
hafalan Hadist, pidato, muroja’ah hafalan, dan mengaji 2
bahasa (Arab, Inggris)
Al-quran(sorogan), hafalan jus ‘Amma dan surat pilihan,
hafalan Hadist, pidato, muroja’ah hafalan, dan mengaji 2
bahasa (Arab, Inggris)
Seni dan sosial : banjari, idul qurban, haflah, pengabdian bagi kelas 4 diniah.
F.
JADWAL MADRASAH DINIYAH
Kelas
satu : النَحو الواضح, الأمثلة التصريفيّة, سفينة الصّلاة,
مدارج الدَروس العربيَة 2&1, ألالا, عقيدة العوام,
شفاء الجنان , الإبريز ,1 خلاصة نور اليقين
مدارج الدَروس العربيَة 2&1, ألالا, عقيدة العوام,
شفاء الجنان , الإبريز ,1 خلاصة نور اليقين
Kelas
dua : متن الأجروميَة, تنوير الحجا , مدارج الدَروس العربيَة 3, الأمثلة التَصريفيَة,
الإبريز الجزء 30, الجواهر الكلاميَة, 2 خلاصة نور اليقين , الكيلان
الإبريز الجزء 30, الجواهر الكلاميَة, 2 خلاصة نور اليقين , الكيلان
Kelas
tiga : العمريطي, فتح القريب, وصايا, مدارج الدَروس العربيَة 4, الكيلان,
خلاصة
نور اليقين 3, الأربعين
النَووي, pasca مدارج.
Kelas
empat : كفاية العوام,
العمريطي,
فتح المعين,
بلوغ المرام
, pasca مدارج.
G.
STRATEGI PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN
Setelah dilakukan penelitian pada sumber-sumber data
yang berhubungan, Pondok Pesantren Ishlahiyah ini mengimplementasi strategi
pembelajaran PAKEM berbasis pendidikan karakter dalam meningkatkan mutu
pembelajaran Madrasah Diniyah Ishlahiyah, maka dapat diketahui paparan data
yang diteliti yaitu sebagai berikut :
1.
Pelaksanaan PAKEM berbasis pendidikan karakter dalam
pembelajaran Ubudiyah para santri di Madin PP.Ishlahiyah.
Dalam
pelaksanaan PAKEM berbasis pendidikan karakter dalam pembelajaran Ubudiyah di
Madin PP.Ishlahiyah menggunakan model pembelajaran kontekstual & beberapa
metode pembelajaran, sebagai berikut :
·
Model pembelajaran Kontekstual
Pada model PAKEM ini telah diterapkan pada
pembelajaran Ubudiyah , sebagaimana hasil wawancara dengan Ustadzah Jannah,
selaku pembimbing pada pembelajaran Ubudiyah di Madin PP.Ishlahiyah.
Konsep detail yang kita pakai memang harus sesuai
dengan lapangan, kayak kemarin kan saya ambil ayat yang berisi motivasi
keterangan, kemudian saya suruh praktek & evaluasi.
Selain hasil
wawancara diatas, penggunaan pembelajaran kontekstual pada pembelajaran
ubudiyah juga didukung dengan foto dibawah ini hasil dari observasi peneliti di
kelas 1 Madin PP.Ishkahiyah pada tanggal 4 Januari 2016 pukul 19.00-19.30 WIB,
yang menunjukkan kegiatan para santri dalam praktik sholat berjama’ah pada
materi bab sholat.
Foto diatas menggambarkan bahwa
pembelajaran yang dilakukan peserta didik langsung dihadapkan pada praktek,
sehingga peserta didik mengalami
langsung, dengan praktek dan dapat mempermudah peserta didik memahami
pembelajaran yang di pelajari.
Metode Pendidikan Madin di PP.Ishlahiyah
1. Metode Tradisional
a.
Metode sorogan
Metode sorogan merupakan metode yang ditempuh dengan cara
ustadz menyampaikan pelajaran kepada santri secara individual. Sasaran metode
ini biasanya kelompok santri pada tingkat rendah yaitu mereka yang baru
menguasai pembacaan Al-quran. Melalui sorogan, pengembangan intelektual santri
dapat ditangkap oleh kiai secara utuh. Dia dapat memberikan bimbingan penuh
sehingga dapat memberikan tekanan pengajaran terhadap santri-santri tertentu
atas dasar observasi langsung terhadap tingkat kemampuan dasar dan kapasitas
mereka. Kelemahan penerapan metode ini menuntut pengajar untuk besikaf sabar
dan ulet, selain itu membutuhkan waktu yang lama yang berarti pemborosan,
kurang efektif dan efisien. Kelebihannya yaitu secara signifikan kiai/ustadz mengawasi, menilai dan membimbing
secara maksimal kemampuan santri dalam menguasai materi yang diajarkan.
b.
Metode Wetonan
Metode wetonan atau di sebut juga metode bandungan adalah
metode pengajaran dengan cara ustadz/kiai
membaca, menerjemahkan, menerangkan dan mengulas kitab/buku-buku
keislaman dalam bahasa arab, sedangkan santri mendengarkannya. Mereka
memperhatikan kitab/bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti
maupun keterangan) tentang kata-kata yang diutarakan oleh ustadz/kiai.
Kelemahan dari metode ini yaitu mengakibatkan santri
bersikaf pasif. Sebab kreatifitas santri dalam proses belajar mengajar di
domoninasi oleh ustadz/kiai, sementara santri hanya mendengarkan dan
memperhatikan.
Kelebihan dari metode ini yaitu terletak pada pencapaian
kuantitas dan pencapaian kjian kitab, selain itu juga bertujuan untuk
mendekatkan relasi antara santri dengan kiai/ ustadz.
c.
Meode Ceramah
Metode ceramah ini merupakan hasil pergeseran dari metode
wetonan dan metode sorogan. Said dan Affan melaporkan bahwa metode wetonan dan
metode sorogan yang semula menjadi ciri khas pesantren, pada beberapa pesantren
telah diganti denganm metode ceramah sebagai metode pengajaran yang pokok
dengan sistem klasik. Namun pada beberapa pesantren lainnya masih menggunakan
metode sorogan dan wetonan untuk pelajaran agama, sedangkan untuk pelajaran
umum menggunakan metode ceramah. (Said dan Affan : 98).
Kelemahan dari metode ini justru mengakibatkan santri
menjadi lebih fasif, sedangkan kelebihannya yaitu mampu menjangkau santri dalam
jumlah banyak, bisa diterapkan pada peserta didik yang memiliki kemampuan
heterogen dan pengajar mampu menyampaikan materi yang relatif banyak.
d.
Metode Muhawarah
Metode muhawarah adalah metode yang melakukan kegiatan
bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa arab yang diwajibkan pesantren kepada
para santri selama mereka tinggal di pondok.(Arifin :39). Sebagian pesantren
hanya mewajibkan pada saat tertentu yang berkaitan dengan kegiatan lain, namun
sebagian pesantren lain ada yang mewajibkan para santrinya setiap hari
menggunakan bahasa arab.
Kelebihan dari penerapan metode ini yaitu dapat membentuk
lingkungan yang komunikatif antara santri yang menggunakan bahasa arab dan
secara kebetulan dapat menambah pembendaharaan kata (mufradat) tanpa hafalan.
Pesantren yang menerapkan metode ini secara intensif selalu berhasil
mengembangkan pemahaman bahasa.
e.
Metode Mudzakarah
Metode mudzakarah adalah suatu pertemuan ilmiah yang secara
spesifik membahas masalah diniyyah seperti aqidah, ibadah dan masalah agama
pada umumnya. Aplikasi metode ini dapat mengembangkan dan membangkitkan
semangat intelektual santri. Mereka diajak berfikir ilmiah dengan menggunakan
penalaran-penalaran yang didasarkan pada Al-qur’an dan Al-sunah serta
kitab-kitab keislaman klasik. Namun penerapan metode ini belum bisa berlangsung
optimal, ketika para santri membahas aqidah khususnya, selalu dibatasi pada
madzhab-madzhab tertentu. Materi bahasan dari metode mudzakarah telah mengalami
perkembangan bahkan diminati oleh kiai yang bergabung dalam forum bathsul
masail dengan wilayah pembahasan yang sedikit meluas.
f.
Metode Majlis Ta’lim
Metode majlis ta’lim adalah metode menyampaikan pelajaran
agama islam yang bersifat umum dan terbuka,
yang dihadiri jama’ah yang memiliki latar belakang pengetahuan, tingkat
usia dan jenis kelamin.
Metode ini tidak hanya melibatkan santri mukmin dan santri
kalong (santri yang tidak menetap di asrama cuma belajar dipesantren ) saja
tetapi masyarakat sekitar pesantren yang tidak memiliki kesempatan untuk
mengikuti pengajian setiap hari. Pengajian majlis ta’lim bersifat bebas dan
dapat menjalin hubungan yang akrab antara pesantren dan masyarakat sekitarnya.
2. Metode Kombinasi
Sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan
teknologi banyak pesantren yang melakukan pembenahan dalam metode pembelajaran,
hal itu dilakukan guna memperbaiki kualitas-kualitas sumber daya santri
sehingga bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Berdaarkan perspektif
metodik, pesantren terpolarisasikan menjadi tiga kelompok yaitu:
a.
Pesantren yang hanya meggunakan satu
metode yang bersifat tradisional dalam mengajarkan kitab-kitab klasik.
b.
Pesantren yang hanya menggunakan
metode-metode hasil penyesuaian dengan metode yang dikembangkan pendidikan
formal.
c.
Pesantren yang menggunakan
metode-metode bersifat tradisional dan mengadakan penyesuaian dengan metode
pendidikan yang dipakai dalam lembaga pendidikan formal.
Berikut
ini beberapa metode hasil penyesuaian dengan pendidikan formal yaitu :
1)
Metode Karya Wisata
Metode karya wisata tampaknya masih terdengar cukup asing
bagi pesantren kecuali ziarah makam-makam wali songo atau ziarah kemakam-makam
kiai terdahulu. Saefudin Zuhri menggambarka “bahwa di beberapa pesantren, para
santri tidak hanya menyibukkan diri dalam mengaji dan belajar, namun ada juga
saat-saat rekreasi atau liburan”.
2)
Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan metode biasa diterapkan di
perguruan tinggi, namun sekarang metode ini juga diterapkan di pesantren. Diskusi
membuka kesempatan timbulnya pemikiran yang liberal dengan dasar argumen
ilmiah. Melalui metode ini ekslusivisme pemikiran di pesantren dapat
terbongkar, feodalisme pengajaran dari kiai dan ustadz memperoleh perlawanan,
sikap toleran, sportif terhadap munculnya ide-ide baru menemukan penyaluran dan
mendorong timbulnya daya kreatif yang tajam.
H. Transformasi Kurikulum Pesantren
1. Materi Dasar Keislaman Dengan Ilmu
Keislaman
Sistem pendidikan dipesantren tidak didasarkan pada
kurikulum yang digunakan secara luas, tetapi diserahkan pada penyesuaian
elastis antara kehendak kiai dengan kemampuan santrinya secara individual.
Ketika masih berlangsung dilanggar (surau) atau masjid,
kurikulum pengajian masih dalam bentuk yang sederhana, yakni berupa inti ajaran
islam yang mendasar. Rangkaian trio komponen ajaran islam yang berupa iman,
islam dan insan atau dokrin, ritual, dan mistik telah menjadi perhatian kiai
perintis pesantren sebagai kurikulum yang diajarkan kepada santrinya.
Penyampaian tiga komponen ajaran islam tersebut dalam bentuk yang paling
mendasar, sebab disesuaikan dengan tingkat intelektual dengan masyarakat
(santri) dan kualitas keberagamaannya pada waktu itu.
Peralihan dari langgar (surau) atau masjid lalu berkembang
menjadi pondok pesantren ternyata membawa perubahan materi pengajaran. Dari
sekedar pengetahuan menjadi suatu ilmu.
Dalam perkembangan selanjutnya, santri perlu di berikan
bukan hanya ilmu-ilmu yang terkait dengan ritual keseharian yang bersifat
praktis-pragmatis, melainkan ilmu-ilmu yang berbau penalaran yang menggunakan
referensi wahyu seperti ilmu kalam, bahkan ilmu-ilmu yang menggunakan cara
pendekatan yang tepat kepada Allah seperti tasawuf.
Ilmu kalam atau ilmu tauhid memberikan pemahaman dan
keyakinan terhadap ke-esaan Allah, fiqih memberikan cara-cara beribadah sebagai
konsekuensi logis dari keimanan yang telah dimiliki seseorang pada
penyempurnaan ibadah agar menjadi orang yang benar-benar dekat dengan Allah.
2. Penambahan dan Perincian Materi
Dasar
Kurikulum pesantren berkembang menjadi bertambah luas lagi
dengan penambahan ilmu-ilmu yang masih merupakan elemen dari materi pelajaran
yang diajarkan pada masa awal pertumbuhannya. Beberapa laporan mengenai materi
pelajaran tersebut dapat disimpulkan yaitu: al-qur’an dengan tajwid dan tafsir,
aqa’id dan ilmu kalam ,fiqih dengan ushul fiqih dan qawaid al-fiqh, hadits
dengan mushthalah hadits, bahasa arab dengan ilmu alatnya seperti nahwu,
sharaf, bayan, ma’ani, badi, dan ‘arudh, tarikh, mantiq, tasawuf, akhlak dan
falak.
Tidak semua pesantren mengajarkan ilmu tersebut secara
ketat. Kombinasi ilmu tersebut hanyalah lazimnya ditetapkan di pesantren.
Beberapa pesantren lainnya menetapkan kombinasi ilmu yang berbeda-beda karena
belum ada standarisai kurikulum pesantren baik yang berskala lokal, regional
maupun nasional. Standarisasi kurikulum barang kali tidak pernah berhasil
ditetapkan disuruh pesantren.
Sebagian besar kalangan pesantren tidak setuju dengan
standarisasi kurikulum pesantren. Variasi kurikulum pesantren justru diyakini
lebih baik. Adanya variasi kurikulum pada pesantren akan menunjukan ciri khas
dan keunggulan masing-masing. Sedangkan penyamaran kurikulum terkadang justru
membelenggu kemampuan santri.
Dengan cermat Saridjo dkk. Menyebutkan bahwa
pengetahuan-pengetahuan yang paling diutamakan adalah pengetahuan-pengetahuan
yang berhubungan dengan bahasa arab (ilmu sharaf dan ilmu alat yang lain) dan
ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan ilmu syari’at sehari-hari (ilmu
fiqih,baik berhubungan dengan ibadah maupun mu’amalahnya). Sebaliknya, dalam
perkembengan terakhir fiqih justru menjadi ilmu yang paling dominan.[3][5]
I. Bentuk Evaluasi
Setiap
proses pembelajaran tentu harus ada kegiatan evaluasi diakhir pembelajaran,
kegiatan evaluasi dilakukan guna mengukur apakah hasil pembelajaran sudah
sesuai dengan tujuan atau belum. Disamping itu ada juga evaluasi terhadap
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, namun evaluasi disini lebih cenderung
bersifat hukuman agar yang melakukan pelanggaran merasa jera dan tidak akan
mengulangi lagi.
Di
Madin PP.Ishlahiyah juga terdapat bentuk evaluasi, baik itu evaluasi proses
pembelajaran maupun evaluasi terhadap pelanggaran-pelanggaran.Uraian nya
sebagai berikut :
1.
Bentuk evaluasi pembelajaran
Bentuk evaluasi pembelajaran disini berupa ujian lisan yang
dilakukan oleh pengajar/ustadz kepada santri setiap selesai pembelajaran satu
bab pada kitab yang dipelajari. Bentuk evaluais lisan dilakukan guna melatih
berbicara dan mengemukakan pendapat agar terbiasa.
Evaluasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengukur sejauh
mana tingkat pemahaman santri mengenai materi yang disampaikan, dengan mengukur
apakah hasilnya sudah sesuai dengan yang diharapkan, jika masih belum sesuai
bisa dilakukan perbaikan metode dan strategi agar pada evaluasi selanjutnya
hasil yang diperoleh bisa sesuai dengan yang diharapkan oleh pengajar/ustadz.
2.
Bentuk evaluasi terhadap bentuk
pelanggaran
Evaluasi ini dilakukan guna memperbaiki sikap-sikap santri
yang menyimpang dari aturan-aturan dan tata tertib yang berlaku. Evaluasi ini
dilakukan dengan bentuk kontrol sosial agar santri jera dan tidak mengulangi
pelanggaran-pelanggaran tersebut. Dalam hal ini evaluasi cenderung lebih
bersifat umum. Pelanggara berikut ini
merupakan contoh hukuman yang diberikan di pondok pesantren miftahussalam
yaitu: pelanggaran pencurian, memakai narkoba dan sejenisnya, adapun hukumannya
cukur rambut, membersihkan kolah dan bisa sampai dikeluarkan dari pondok
pesantren.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar